Lainnya

Translate

Senin, 05 November 2012

Sinopsis novel "Bekisar Merah-Ahmad Tohari"


Judul                          : Bekisar Merah
Nama Pengarang      : Ahmad Tohari
Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun                         : 2005
Cetakan                      : pertama,  Agustus 2005
Jumlah halaman        : 312 halaman
Sinopsis:
Karangsoga merupakan salah satu desa di kaki pegunungan vulkanik. Mayoritas masyarakatnya, yang laki-laki adalah seorang penderes nira. Karena ketergantungan mereka terhadap nira, dan tak memiliki pekerjaan lain, maka masyarakat Karangsoga kebanyakan hidup dalam kemiskinan.
Salah satu penderes tersebut bernama Darsa, dia seorang lelaki muda yang beristrikan Lasi, seorang wanita yang cukup cantik. Namun dulu ketika Lasi kecil, sering berhembus kabar kalau dia itu anak haram jadah, ibunya diperkosa oleh Jepang. Maka tak heran kalau secara fisik dia sangat cantik dengan mata kaput. Setelah dia dewasa kecantikan Lasi bahkan membuat banyak lelaki terpana, untuk itulah Darsa menjadi sangat beruntung.
Namun, di antara perasaan beruntung tersebut dia juga merasa cemas atas celoteh orang-orang yang menyebutkan bahwa Lasi lebih pantas untuk menikah dengan lurah. Tiga tahun perkawinan mereka pun, mereka belum dikaruniai anak. Ini sangat dipikirkan Darsa suatu ketika, kala dia menderes. Hingga kemudian jatuhlah ia dari pohon kelapa.
Memang tak ada luka parah yang terlihat, namun kemudian untuk memastikan keluarga membawanya ke rumah sakit. Ternyata Darsa terus saja ngompol. Rumah Sakit meminta Lasi untuk membawanya ke rumah sakit yang lebih besar dengan biaya besar pula, namun dengan persetujuan keluarga mereka akhirnya memilih untuk merawat darsa di rumah, karena tak tersedia banyak biaya.
Dalam sakit, Darsa berubah sikap, dia mulai sering marah-marah. Hal ini membuat Mbok Wiyarji, menantunya berkeluh kesah pada Eyang Mus. Dia bahkan menginginkan Lasi menikah dengan mantan gurunya. Hal ini tentu ditolak mentah-mentah oleh Eyang Mus. Dia mengingatkan untuk ikhtiar. Maka Mbok Wiyarji mengatakan bahwa Darsa sudah ditangani oleh Bunek, seorang Dukun Bayi. Setengah tahun tak berdaya, akhirnya Darsa mengalami kemajuan dia sudah tidak lagi ngompol. Dia juga sudah bisa melakukan pekerjaannya yang dulu, hanya saja, memang masih perlu sering terapi.
Namun semenjak Darsa sembuh, masalah Lasi justru rumit, dia mendengar bahwa anak Bunek memaksa kawin Darsa. Kontan saja, hal ini menimbulkan spekulasi masyarakat. Maka, Bunek pun buka suara, dia tanpa rasa bersalah menejelaskan bahwa dia hanya minta tolong Darsa karena dia sudah menolong Darsa. Menghadapi kenyataan ini Lasi tak kuat, maka dia pun kemudian memutuskan kabur, ikut tetangganya, seorang sopir truk, ke Jakarta.
Sampai di Jakarta, Lasi membantu Bu Koneng di warung makan. Dia tidak ingin pulang ke kampungnya lagi. Dia tak kan mengindahkan sopir yang membawa dia ke Jakarta. Di tempat lain, Darsa merasa sangat kehilangan Lasi, dia juga merasa sangat bersalah karena telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dia lakukan.
Sementara itu Kanjat yang yang sedang menyelesaikan skripsi mengangkat seputar kehidupan masyarakat penyadap nira. Dia merasa banyak yang tidak adil dalam sistem penjualan gula merah. Petani sangat dirugikan, dengan segala resiko dan kesulitan, harga gula enak saja diatur oleh para tengkulak. Hal ini lah yang menyulut kepedulian Kanjat untuk terus menyelesaikan skripsinya.
Lasi sendiri setelah lama bersama Bu Koneng, dia bertemu dengan Bu Lanitng. Bu Koneng ternyata tidak sebaik yang Lasi kira. Selama ini memang, dia tidak menjajakan Lasi kepada para lelaki, namun nyatanya, dia menyimpan Lasi, hingga kemudian datang Bu Lanting. Bu Lanting sendiri adalah orang yang mencarikan gendik keturunan Jepang bagi para pejabat. Semacam geisha. Atas bujuk rayu Bu Lanting lah, akhirnya Lasi tinggal bersama bu Lanting. Di sana dia dipoles sedemikian rupa sehingga makin hari makin cantik.
Akan tetapi, hal itu tidak serta merta membuat Lasi bahagia. Dia masih terus terkenang dengan desanya. Hingga suatu ketika Bu Lanting bertemu dengan Pak Handarbeni, salah satu direktur sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi. Sampai satu ketika Bu Lanitng meminta Lasi menemui laki-laki, yang tak lain adalah Pak Handarbeni. Dia diminta memakai kimono, namun belum juga tamu itu datang, dia sudah dikejutkan oleh kadatangan Kanjat, laki-laki yang dulu sudah dianggapnya sebagai adik.
Ketika Kanjat berlalu ada perasaan kehilangan dalam diri Lasi. Namun perasaan itu cepat-cepat menghilang, karena tamu yang sedianya datang ternyata benar memang sudah datang. Di lain pihak, dalam perjalanan pulang, Kanjat tak henti-hentinya memikirkan Lasi, bahkan Pardi, si sopir truk pun, kemudian menggodanya untuk segera menikahi Lasi, terlebih ketika dia tahu sekarang Lasi sudah menjelma menjadi wanita yang sangat cantik.
Beberapa hari kemudian, Bu Lanting pun meminta kesanggupan Lasi untuk menjadi istri Pak Handarbeni. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan. Dia dihadapkan pada permasalahan pelik, namun dia tak punya pilihan. Selama ini dia telah banyak menerima kebaikan Bu Lanting. Dia tak bisa menolak Pak Handarbeni, meskipun hatinya berontak.
Suatu lebaran Lasi pulang ke kampung, namun sikapnya begitu dingin. Dia hendak menceraikan Darsa. Sementara itu Kanjat yang sudah lulus kuliah merasa kosong. Namun, berkat Doktor Jirem, dia berusaha berbuat banyak untuk kampungnya, memikirkan nasib para penyadap nira. Dia membentuk tim peneliti.
Kabar mengenai Lasi yang sudah janda, akhirnya sampai juga ke Kanjat. Dia kemudian menemui Lasi dengan maksud ingin melamarnya. Namun tak dinyana, Lasi tak bisa menerima lamaran itu dengan berat hati. Dia sudah terikat oleh Pak Handarbeni, meskipun dalam hati, dia juga menyukai Kanjat.
Di Jakarta, hubungan antara Lasi dan Pak Handarbeni tak berjalan harmonis, ternyata Pak Han orang yang impoten, untuk memenuhi kepuasan Lasi, Pak Han bahkan menawarkan ide gila. Lasi boleh berhubungan denbgan lelaki mana yang dia suka. Hal ini membuat Lasi terkejut dan marah, untuk itulah dia kemudian berpikir untuk bercerai. Maka ketika dia pulang kampung, hal ini diutarakannya kepada Kanjat. Kanjat tak menjawab. Mereka kemudian justru mendiskusikan soal listrik yang masuk desa, dan membuat pohon-pohon kelapa para penyadap ditumbangkan.
Hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Kanjat. Dia bimbang apakah harus meneruskan hasratnya terhadap Lasi, sementara di lain pihak, Darsa membutuhkan keberpihakan dan juga dukungan dari Kanjat.
Fakta Cerita
Alur Cerita
  • Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, hal ini terlihat ketika Lasi mengingat masa kecilnya yang penuh dengan ejekan. Begitu juga beberapa bagian ketika Lasi mengingat potongan-potongan masa lalu.
Tokoh dan Penokohan
Darsa
  • Semangat. Hal ini tecermin dalam petikan “Ia segera bangkit dan keluar dari bilik tidur. Lasi pun mengerti, suaminya terpanggil oleh pekerjaannya, oleh semangat hidupnya”
  • Berjiwa ksatria. Hal ini dibuktikan ketika di depan Eyang Mus dia mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Bahkan kemudian dia berniat memperbaiki kesalahan tersebut.
  • Pasrah dan menerima. Hal ini terlihat dari sikapnya yang menerima ketika sepuluh dari dua belas pohon ditebang untuk keperluan pengadaan listrik.
  • Bertanggung jawab. Ini terbukti ketika dia mau menikahi Sipah
Lasi
  • Berani. Hal ini dibuktikan dengan keberanian Lasi dalam menghadapi tiga anak laki-laki yang mengejeknya.
  • Setia. Hal ini terbukti ketika Darsa sakit dan terus ngompol pun, Lasi masih selalu menemaninya
  • Polos. Hal ini terlihat ketika dia baru pertama kali ke Jakarta dan kepasrahannya pada setiap keputusan Bu Canting.
Kajat
  • Peduli. Hal ini dia tunjukkan melalui skripsi maupun penelitian yang dia angkat. Dia memiliki tekad yang besar untuk membawa para penyadap nira ke tataran hidup yang lebih baik.
  • Teguh pendirian. Hal ini dia tunjukkan, meskipun orang tua tidak setuju dengan apa yang dia usahakan, namun dia tidak pantang mundur, dia juga tidak gengsi, meskipun dia seorang insinyur, namun dia tetap dekat dengan masyarakat.
  • Pengertian. Hal ini dia tunjukkan ketika Lasi bercerita tentang kehidupannya. dia bisa mengerti dan memahami apa yang menjadi keputusan Lasi.
Latar
Latar Tempat
  • Karangsoga. Hal ini terbukti melalui petikan berikut “Karangsoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik”
  • Jakarta. Hal ini tergambar dalam petikan “Menjelang fajar truk sampai di pinggiran kota Jakarta”
  • Kalirong. Hal ini tergambar dari petikan “Kalirong adalah sebuah sungai kecil yang bermula dari jaringan parit-parit alam di lereng gunung sebelah utara Karangsoga”
Latar Waktu
  • Musim kemarau. Hal ini terbukti dalam petikan “Musim pancaroba telah lewat dan kemarau tiba. Udara Karangsoga yang sejuk berubah dingin dan acap berkabut pada malam hari…”
Latar Sosial
Masyarakat yang melatari novel ini adalah kehidupan masyarakat desa penyadap nira yang masih tradisional. Mereka hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan, serta sengkarut permasalahan terkait dengan sulitnya mengubah pola perdagangan gula merah yang sangat merugikan petani.

Sinopsis novel "Petir-Dewi Lestari"


Judul                          : Petir
Nama Pengarang      : Dewi Lestari
Penerbit                      : PT. Bentang Pustaka
Tahun                         : 2012
Cetakan                      : pertama, April 2011
Jumlah halaman        : 286 halaman
Sinopsis:
Reuben dan Dimas menginjak ulang tahun hubungan mereka yang ke 12. Dimas begitu sibuk mempersiapkan cendera mata yang mungkin bisa diberikan kepada Reuben. Namun nyatanya, dalam makan malam yang direncanakan oleh Dimas, Rauben melupakannya. Hal ini menyebabkan Dimas marah dan mengurung diri seharian. Namun, Dimas kemudian mencairkan hubungan dengan Reuben ketika dia mendapatkan surel dari Gio Alvarado, yang merupakan teman dari Diva. Gio mengabarkan bahwa Diva temannya menghilang dalam sebuah ekspedisi.
-o-
Sementara itu di Bandung, terdapat seorang gadis yang nyentrik. Dia bernama Elektra. Ayahnya bernama Wijaya seorang tukang reparasi. Dia meninggal karena serangan stroke. Keanehan yang dimiliki oleh Elektra tampaknya menurun dari ayahnya. Pak Wijaya pernah suatu saat mengalami sengatan listrik yang sangat hebat, begitu juga dengan Elektra. Dia pernah mengalami segatan listrik ketika umurnya baru delapan tahun. Sejak kejadian tersengat itu, Elektra menyukai petir. Kesukaannya terhadap petir yang dirasakan Watti, kakaknya begitu berlebihan, membuat kakaknya tersebut menganggap bahwa Elektra didiami semacam setan, maka kemudian dia membawa Elektra ke dalam persekutuan gereja. Namun naas, ketika sedang melakukan ritual, epilepsi Elektra kambuh.
Selama ini Elektra merasa bahwa antara keluarga ayahnya dengan keluarga yang lain terdapat jurang pemisah. Hal ini karena secara ekonomi keluarga Pak Wijaya tak beranjak, berbeda dengan keluarga lain. Elektra dan kakanya pun hanya disekolahkan di sekolah negeri bukan sekolah kristen unggulan. Maka tak heran kalau dirinya dan Watti sedikit di kucilkan. Tak hanya di sini, sebagai seorang China posisi mereka pun tak menguntungkan, karena seringkali menjadi bahan olokan kaum pribumi.
Watti sendiri sebagai seorang aktivis gereja memiliki kisah cinta yang unik. Dia mencintai Nelson, teman dalam persekutuan, namun ternyata Nelson tak memiliki perasaan khusus kepadanya. Setelah kesukaan Watti terhadap Nelson berakhir, dia mulai terkena demam NKTOB, salah satu grup band. Dia sangat tergila-gila. Dia bahkan mulai pacaran saat kelas 2 SMA dengan Andre. Dengan teman lelakinya itu, dia bahkan kepergok telah melakukan hubungan seksual oleh Elektra. Namun, hubungan itu pun ternyata putus juga.
Untuk mengakhiri petualangannya soal cinta, maka Watti pun kemudian menikah dengan lelaki yang sangat digilainya, dia bernama Atam. Atam sendiri adalah seorang muslim, namun karena saking cintanya maka Watti kemudian pindah keyakinan atas restu dari ayahnya. Saat Watti menikah, ayahnya sudah dulu meninggal dan tak sempat untuk menjadi wali. Dia kemudian pindah ke Tembagapura. Dari sanalah dia kemudian mengawasi Elektra. Dia meminta Ektra untuk menjual saja rumah warisan Dedi (ayahnya).
Namun Elektra menolak ide gila itu. Alih-alih hendak menjualnya, dia justru melakukan pembersihan dan penataan ulang. Dia sama sekali tak memiliki niatan sedikit pun untuk menjual, meskipun dia sendiri sebenarnya dalam keadaan kepepet tak memiliki uang yang cukup banyak. Watti sering mengolok-olok sebagai pengangguran. Tak mau kalah, Elektra mengatakan bahwa Watti tak akan masuk surga gara-gara keluar dari agamanya, dia kemudian mencatut satu hadist yang belakangan diketahui bahwa itu bohong. Terang saja ini membat Watti marah dan mendiamkan Elektra selama sebulan.
Hingga suatu ketika datang surat penawaran kerja dari  Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional yang membuka pendaftaran sebagai asisten dosen bagi Ektra. Elektra cukup senang karena dia selama ini selalu dipanas-panasi oleh Watti.  Meski demikian, dia sempat mempertimbangkan juga saat Watti mengatakan bahwa ada kesempatan untuk bekerja di Tembagapura. Saat akan menelepon kakaknya itulah, dia bertemu dengan mantan pembantunya. Darinya dia mendapatkan informasi soal paranormal kondang bernama Nyi Asih. Di sana dikatakan bahwa surat yang mengatakan dari STIGAB itu merupakan rencana jahat seseorang. Kontan saja hal ini menyebabkan Ektra ketakutan. Ketika dia tak mau mendapatkan jimat dari dukun, maka dia pun memegang dukun tersebut agar tak meneruskan ritualnya. Tak disangga dukun itu kesetrum.
Keyataan ini membuat dia sedih, apalagi desakan dari kakaknya untuk segera mencari pekeraan tak kunjung sirna. Maka, dengan ketetapan hati, dia pun mendaftar di sekolah tinggi tersebut. Untuk mendapatkan uba rampe yang disyaratkan, maka dia pergi ke Buah Batu. Di sanalah dai bertemu dengan Ibu Sati yang cukup baik. Semenjak itu, dia kemudian mengajukan lamaran, tak disangka tak dinyana, ternyata surat penaewaran menjadi dosen itu palsu, dia sudah dikerjain.
Di ambang kegalauan, maka dia memutuskan untuk menemui Ibu Sati lagi. Dia mulai belajar meditasi dan pertemuan mereka pun semakin intens. Watti terus saja mengoloknya soal pacar, namun dia tidak menggubris. Bahkan karena bingung mencari pekerjaan, dia memiliki pemikiran untuk bekerja di tempat Bu Sati. Sayang, ketika dia ingin melamar pekerjaan, Bu Sati tak ada di tempat, pergi ke Solo.
Alhasil karena frustasi, maka dia melalui kawan akhirnya mengenal dunia internet. Dari dunia itulah, dia mulai banyak teman dan kecanduan. Karena keranjingan internet inilah, maka pola hidupnya menjadi tak beraturan. Dia mulai jatuh sakit. Hingga dia benar-benar tak bisa keman-mana, namun syukurlah dia, karena dalam keadaan tak sadar ditolong oleh Bu Sati, yang saat itu sudah kembali dari Solo. Dari pertemuan saat itulah, dia mulai diberitahu tentang makna petir. Lantas, dari Bu Sati pula dia mendapatkan masukan, daripada online di tempat orang, akan labih baik lagi kalau dia memiliki komputer sendiri dan menjelajah internet di rumah.
Ide ini membekas dalam pikiran Ektra. Lantas dia membeli komputer dengan bantuan seorang teman. Lama-lama atas rekomendasi Bu Sati dia mengembangkan usaha untuk membuat warnet. Warnet itu adalah usaha bertiga antara Ektra, Kewoy dan Mpret. Dari warnet, mereka kembali mengembangkan usaha lagi, menjadi tempat nongkrong yang diberi nama Elektra Pop.
Usaha ini maju dengan pesat, perkembangannya luar biasa. Akselerasi yang singkat ini mau tak mau mempengaruhi kehidupan Elektra. Dia kemudian mengalami sakit yang aneh, selalu sakit kepala dan tak bisa bangun, namun acap kali hendak pergi ke dokter sakit itu menghilang dengan sendirinya. Teman-temannya yang diam-diam berusaha menolong pun justru tersengat listrik dari aliran tubuh Elektra. Elektra kemudian memutuskan untuk menghubungi Bu Sati. Dari Bu Sati dia diberi penjelasan, bahwa dia tidaklah sakit melainkan karena tubuh sedang melakukan pembersihan.
Bu Sati juga mengatakan bahwa listrik dalam diri Elektra adalah potensi. Untuk itulah dia terus meminta bimbingan Bu Sati, hingga Elektra kemudian mampu menerapi seseorang. Sediit belajar, dia sudah bisa mengobati orang lain, dia bisa membaca pikiran orang lain, dan melakukan berbagai atraksi yang menarik dengan kemampuan yang dia miliki. Makin lama makin banyak orang yang berobat ke tempat Elektra.
Hal ini menyebabkan Mpret, yang notabene salah satu investor dalam usaha Elektra merasa terganggu dengan kehadiran fasilitas baru (pengobatan yang dilakukan Elektra). Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Elektra sudah melenceng dari apa yang direncanakan semula. Hal ini memicu kemarahan Elektra. Hingga kemudian terjadi perang dingin di antara merka berdua, Mpret pun semakin jarang ke Elektra Pop. Namun belakangan, ketidaksetujuan Mpret ini lebih dikarenakan tidak ingin Elektra terlalu letih. Belakangan juga diketahui kalau Mpret mencintai Elektra.
Perkembangan usaha Elektra membuat Watti tercengang, bahkan suaminya, Antam kemudian mengajak Mpret untuk bekerjasama mengembangkan usaha serupa. Dari sinilah, Elektra kemudian dikenal di kalangan keluarga Antam. Usaha yang dikelola bersama Antam ini pun mengalami perkembangan yang juga pesat. Hingga suatu ketika datang Bong, yang ternyata saudara sepupu Mpret. Bong kemudian meminta Elektra untuk membantu mengobati temannya.
Fakta Cerita
Alur Cerita
  • Alur cerita dalam novel ini adalah alur flashback/campuran hal ini terlihat dari plot waktunya yang melompat diawali dari tahun 2003, kemudian mundur ke belakang dari awal 2001. Dari sinilah kemudian alur berubah menjadi alur maju, karena runtut dari tahun 2001 sampai tahun 2003.
Tokoh dan Penokohan
Dimas
  • Suka ngambek. Hal ini terlihat dalam petikan “Ia tahu kalimat itu percuma. Dimas akan berjalan masuk ke kamarnya, menutup pintu. Tidak keluar sampai pagi, kecuali kalau ada kebakaran”
Reuben
  • Pelupa. Hal ini dibuktikan dalam petikan berikut “Rauben menutup mata, frustasi. Kenapa ia selalu lupa? Kenapa tidak pernah bisa ingat? Bukan hari ini saja”.
Elektra
  • Pemalas. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan berikut “Aku, si Bungsu Pemalas yang jarang punya aksi”
  • Tidak jujur/pandai menyimpan rahasia. Ini terbukti ketika dia mendapati Watti sehabis melakukan hubungan seksual, namun dia tak mengatakan apa-apa
  • Irasional. Hal ini terjadi ketika dia meletakkan taspen di dalam peti mati ayahnya. Sikap ir sional ini juga dia tunjukkan ketika dia melamat pekeraa di STIGAN.
  • Demokratis. Hal ini terlihat dari sikapnya ketika membebaskan kakaknya menentukan agama pilihan.
  • Mandiri dan tabah. Hal ini terlihat dari kutipan “Betapa kerennya konsep ini nanti: Elektra, si gadis sebatang kara, mandiri dan tabah mengarungi hidup, tinggal di rumah besar dan cantik berlokasi strategis”.
  • Kreatif. Hal ini dibuktikan ketika dia mengurus masalah lamaran pekerjaan ke STIGAN, dia memiliki beberapa rencana, ketika satu rencana gagal, maka dia akan melakukan rencana yang lain.
  • Perhatian. Hal ini terlihat dari sikapnya terhadap pasiennya, sekaligus ketika dia menghadapi permasalahan Kewoy
Watti
  • Hiperaktif. Hal ini  dibuktikan dalam kutipan “Watti, si Sulung Hiperaktif yang selalu beraksi”
  • Centil. Hal ini terlihat ketika Watti mulai suka berdandan di usia yang masih sangat remaja
  • Sembrono. Hal ini dibuktikan ketika Watti sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya di kelas 2 SMA
  • Teguh dan mau mengambil sikap. Ini terlihat ketika dia mau untuk memutuskan menikah dan pindah agama, sekalipun sebelumnya dia adalah pemeluk Kristen yang teguh, dia kemudian juga mau untuk belajar mengaji.
  • Menghargai. Hal ini tercermin, sekalipun dia sudah pindah agama, dia berjanji setiap Natal tiba masih akan mengunjungi adiknya
  • Tukang pamer. Hal ini terdapat dalam kutipan “Kalalu kalian kenal Watti seperti aku, tentu tahu bahwa niat baiknya itu seiring sejalan dengan niat pamernya kalau sekarang ia punya duit”.
  • Rapuh. Hal ini dibuktikan dalam kutipan “Tak sampai sepuluh detik, tahu-tahu Watti seseunggukan. Dan selama sejam ke depan, aku mendengarkan kakakku menangis dan mengeluh…”
Bu Sati
  • Ramah. Hal ini terlihat dari kutipan berikut “Seorang ibu gemuk berumur 40-an tahun berwajah hangat tersenyum lebar kepadaku”
  • Kreatif. Ini dibuktikan ketika wanita itu mengaku membuat sendiri sandal manik-maniknya.
  • Suka menolong. Hal ini terbukti ketika dia tidak mau dibayar ketika mengajari Ektra meditasi, karena baginya sudah merupakan kewajiban menolong orang lain.
  • Sensitif/punya kepekaan. Hal ini dibuktikan ketika dia tahu Ektra sedang sakit, meskipun dia tidak berada di tempat Ektra.
  • Berkharisma. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut “Sosok beliau yang tidak biasa, penampilan luarnya yang sangat India dan pembawaan dalam yang sangat berkharisma, memperhebat kasak kusuk di antara mereka berempat”
  • Bijak. Hal ini terihat dari petuah-petuah yang dia berikan kepada Ektra.
Mpret
  • Semangat. Hal ini dibuktikan dalam petikan “Barangkali karena semangat hidupnya yang menyala-nyala, atau kegilaannya pada dunia digital yang tidak kepalang tanggung…”
  • Menyenangkan. Hal ini dibuktikan dengan petikan “Ia orang yang paling menyenangkan sesudah Srimulat, tetapi begitu bicara bisnis, rasanya lebih baik mengobrol dengan nyamuk”. Karena sikapnya yang menyenangkan ini juga, maka dia memiliki jaringan yang sangat luas untuk membantu segala bentuk bisnisnya.
  • Sederhana dan efektif. Hal ini terdapat dalam kutipan “Aku suka gaya bisnisnya yang sederhana, tetapi efektif”
  • Kreatif. Hal ini dibuktikan dengan cara kerjanya yang out of the box, dia memiliki banyak konsep menarik dan mau menggandeng orang-orang untuk bekerja sama.
Kewoy
  • Suka menolong. Hal ini terlihat ketika dia mendampingi Ektra
  • Baik hati/protektif. Hal ini dibuktikan ketika Ektra sudah tertarik untuk membeli produk baru, maka Kewoy segera mengingatkan tentang keterbatasan budget yang mereka miliki.
  • Phobia. Hal ini tergambar dalam petikan “Aku tidak tahu kalau Kewoy ternyata mengidap homophobic, ketakutan berlebihan kepada kaum homoseksual”.
  • Tertutup. Hal ini dibuktikan, ketika dia tidak berani mengutarakan keinginannya untuk pulang, hanya karena takut tak mendapatkan izin dari Ektra.
Latar
Latar Tempat
  • Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan petikan berikut: Pria itu mendongak. Ada ribuan pilihan tempat untuk makan siang di Kota Jakarta, tetapi ia selalu memilih makan sushi di tempat sama, ….”
  • Bandung. Hal ini terdapat dalam kutipan “Tinggal di Bandung membuat namaku tidak indah”
  • Buah Batu: hal ini dibuktikan pada petikan berikut “Sejak dulu, ada satu rumah di daerah Buah Batu yang aku curigai sebagai rumah nenek sihir”
Latar Waktu
  • 2003. Hal ini dibuktikan dalam tahun yang menunjukkan waktu dalam sub judul
  • 2001. Hal ini terlihat dari kode waktu yang ditunjukkan dalam subjudul Bandung
  • 2002. Hal ini terdapat pada subjudul waktu pada halaman 176
  • 2003. Hal ini terdapat pada subjudul waktu pada halaman 260
Latar Sosial
Latar sosial yang melatari novel ini adalah kehidupan masyarakat muda kota, yang mencoba mengkorelasikan antara aspek spiritisme muda sekaligus spiritual kebatinan.