Lainnya

Translate

Kamis, 28 Maret 2013

Sebuah pesan



Sebuah Pesan
oleh Roghib M Ridho

Lewat pena ini ku titipkan sebuah pesan
Pesan dari berbagai pesan yang belum terungkapkan
Atau bahkan sama sekali tidak tersampaikan
Lewat goresan tinta ini ku sampaikan sebuah ucapan
Ucapan-ucapan yang tak mendapat kesempatan
Yang masih saja menghiasi tenggorokan
Lewat lembaran ini juga ingin ku katakan
Kata-kata yang tak pernah menjadi kalimat
Entah karena ambigu atau terabaikan
Hingga tibalah pada kesempatan yang datang
Untuk sekedar menuliskan dan menyampaikan
Tentang sulitnya saran diungkapan atau disampaikan

Salah siapa?



 SALAH SIAPA?


     “Sungguh ironi”, hanya itu yang  mungkin terucap tatkala melihat gambar tersebut. Gambar berupa soal ujian Sekolah Dasar. Miris memang, saat tulusnya kasih sayang seorang Ibu tidak dapat dimengerti oleh anak. Pertanyaan pun perlahan muncul. Apakah kenyataannya seperti ini? Terus siapa yang harus disalahkan?
      Dewasa ini perkembangan jaman sudah sangat pesat. Era globalisasi sudah sangat mengikat. Modernitas merajalela. Hingga hedonisme dimana-mana. Tapi tidak pernah kita sadari kalau inilah awal dari permasalahan pada gambar di atas. Kini perempuan  memiliki hak untuk berkarir. Menggapai segala impian yang dia miliki. Hingga mereka lupa akan suatu hal. Hal tersebut yaitu kodratnya sebagai Ibu. Sebuah jabatan paling mulia bagi seorang perempuan. Memunculkan kasih sayang yang tulus bagi seorang anak.
        Namun kenyataan berkata lain. Kini perempuan telah terbawa arus globalisasi. Hingga jabatan karir pun bisa jadi lebih penting dari jabatan sebagai Ibu. Dan gambar di atas menjadi pembuktiannya. Seorang anak tidak bisa disalahkan jika ia memilih jawaban pembantu. Saat berada di rumah, pembantu lah yang selalu ada buat seorang anak. Mungkin karena Ibunya terbawa arus globalisasi tadi. Pembantu juga tidak salah. Karena pembantu hanya bertugas dalam pekerjaannya.

Sudah saatnya untuk berubah. Jangan sampai kejadian seperti itu terulang kembali!!!