KECELAKAAN
DI SURGA ALMAMATER
Suatu
ketika kawanan burung melukis langit dengan warna kegelapan. Senada dengan itu
awan yang tadinya cerah berotasi seratus delapan puluh derajat menjadi
kelabu. Tatkala itu juga suara gemuruh
pun bergema. Tak cukup sampai disitu, kilat dan petir pun tak mau kalah untuk memperlihatkan
kebolehannya. Hingga diketahui kalau ternyata sedang terjadi diskusi di
setengah surga sana. Dan pelaku dari diskusi itu ialah: Si Toga, Si Abu-abu, Si
Biru, dan Si Merah.
Si
Abu-abu : “Gimana ini bro, di bawah
sana keadanan semakin ruwet.”
Si
Biru : “Benar kamu, makin
tambah pusing saja aku mikirnya.”
Si
Merah : “Lha memangnya ada apa
kak? Kok kelihatannya pada sibuk berpikir semua.”
Si Toga : “ Ah sekarang jaman sudah berubah
bung. Tidak seperti dulu lagi. Mana ada
coba, seorang berpendidikan melakukan kegilaan semacam itu. Tak masuk di
akal. Apa juga hubungannnya dengan berbagai materi yang telah dipelajari?”
Si Abu-abu : “Benar kamu bro, jaman sudah berevolusi.
Begitu pula dengan para penghuninya tak terkecuali. Selaras dengan itu pula
pikirannya pun lambat laun mulai terjangkit virus evolusi”
Si Merah : “Ah bicara apa to kak? Jangan berbelit-belit kak!”
Si Biru : “Kalian benar, perubahan itu
sekarang semakin rajin mengetuk pikiran orang. Sampai kaum yang senasib dengan
kita pun tak luput ia kunjungi.”
Si Abu-abu : “Begini bro, yang aku takutkan bukanlah
perubahannya, tapi pemaknaan dari kata perubahan itu sendiri. Setiap individu
pasti punya pemaknaan sendiri-sendiri. Nah bisa jadi perbedaan pemaknaan itu
yang kelak bisa menimbulkan suatu problema.”
Si Toga : “Ah benar sekali, tak ada sidik
jari yang sama disetiap telapak tangan. Dan apa yang Abu-abu takutkan, kini
sudah mulai sering kita jumpai dimana-mana.”
Si Merah : “Sering kita jumpai? Memangnya
kejadian sepeti apa kak?”
Si Toga : “ Ada sebuah berita bung. Suatu
ketika, para sesepuh kaum pelajar yang katanya dibilang sebagai kaum
berpendidikan, bermoral, dan beretika. Mereka malah menyukai dengan hal yang
sangat bertolak belakang dengan label itu. Dunia sekolah yang seharusnya mereka
jadikan sebagai dunia menguras ilmu, malah mereka gunakan untuk menguras
keringat, menguras kantong, dan lebih parahnya lagi menguras pikiran orang
lain.”
Si Abu-abu : “Aku mengerti maksudmu Toga. Tapi mau
dibilang apa, semua sudah terjadi. Dan seperti itulah kaumku. Mereka menguras
keringat untuk tawuran. Menguras kantong untuk beberapa dilema yang sangat jauh
hubungannya dengan ilmu pelajaran. Dan yang kamu maksud menguras pikiran orang
lain itu semisal tragedi kecelakaan di surga bukan?”
Si Toga : “Hahaaha, ya tau sendirilah kamu.”
Si Biru : “ Oh itu, berarti tidak beda jauh
dengan fenomena yang terlukis dari kaumku. Kanfas itu seolah seolah
menggambarkan fakta saat ini. Dimana pemuda yang seharusnya disiapkan untuk
menjadi penerus sesepuh bangsa, malah cara menyiapkannya tidak pada tempatnya.”
Si Toga : “ Hah maksudmu gimana bung?”
Si Abu-abu : “Iya maksudmu apa to bro?”
Si Biru : “Gini lho, kaumku itu bisa
dibilang disiapkan untuk menghadapi masa depan yang pasti akan datang nanti.
Namun pada kenyataannya berbeda, mereka seolah terbebani dengan kata-kata itu
semua. Mereka seolah menjadi bahan eksperimen tatkala baru saja menyandang
gelar remaja dan masih dengan kelabilannya. Berbagai teori percobaan yang
katanya untuk memajukan dunia pendidikan, diterapkan dengan kaumku sebagai
bahan eksperimennya. Padahal konon katanya teori itu jiplakan dari negeri
tetangga yang katanya juga telah gagal diterapkan di negeri itu.”
Si Toga : “ Wah ngeri juga bung. Yah tapi
semua terjadi pada kaum kalian kan?”
Si Biru : “Eh siapa bilang? Kaum kamu juga
tak luput dari problema itu Toga.”
Si Abu-abu : “Ah jangan keenakan kamu Toga, coba kamu
lihat kaummu. Kaum yang kata orang-orang adalah kaum cendekia, kaum sebagai
tonggak peradaban. Akan tetapi…”
Si Toga : “Akan tetapi apa? Bung, kaumku
memang kaum cendekia. Coba kau lihat siapa yang berhasil membuat revolusi dunia
politik kita. Dan semua revolusi yang sekarang dinikmati bangsa kita itu gak
bakalan terjadi kalau bukan kaumku, kaum Toga sebagai aktor peradaban bung.”
Si Abu-abu : “Ah kamu tidak melihat ke tanah bro,
terlena akan kebebasan ekspresi ala kaum Toga. Dan parahnya lagi kebebasan
ekspresi itu yang menutupi akan kodrat semestinya. Menurutku kaum Toga itu
masih belum lepas dari kwajiban utama untuk menimba ilmu. Akan tetapi pada
kenyataannya, bebas berekspresi itu diartikan dalam makna yang berbeda. Jadi tidak
heran kalau pengangguran bergelar semakin menjamur di bangsa ini. Kaum Toga
terlalu sibuk dengan urusan mengutarakan pikiran, dan tidak jarang cara dalam
mengutarakannya itu yang salah secara ekspresi. Dengan dalih membantu
mengutarakan keluhan masyarakat, mereka dengan seenaknya berorasi pada instansi
tertentu. Dan yang lebih tidak disukai lagi, apabila ekspresi itu berujung
anarki.”
Si Toga : “Ah tapi semua itu hanya argument
kamu. Toh kaum ku tetap santai dalam menjalaninya. Mereka seolah tak terbebani
dengan semua itu. Mereka tetap santai dengan tenggelamnya mereka dalam
kebebasan itu.”
Si Abu-abu : “Nah dengan tenggelamnya mereka itu yang
menjadi pikiran bagi orang bro.”
Si Toga : “Oke harus ku akui kamu benar
bung. Dan jujur saja aku mulai takut akan kebebasan itu bung.”
Si Biru : “Kalian semua benar, memang
kenyataan seperti ini lah yang harus diterima. Eh ngomong-ngoman Si Merah
kelihatannya lagi galau tuh.”
Si Abu-abu : “Hei kamu kenapa merah, adakah yang mau
dibagi?”
Si Merah : “Oh gini kak, mendengar cerita dari
kakak-kakak tadi. Saya jadi ikut kepikiran dengan kaumku juga kak.”
Si Toga : “Lha emang kenapa? Bukan kah kaum
mu masih baik-baik saja. Masih selalu bisa tertawa dengan keluguannya walau
sesungguhnya beban pendidikan sudah mulai ada bung.”
Si Merah : “Nah itu dia yang sebenarnya mau
saya omongin kak. Ya memang kalau sebatas dipandang kaum ku itu belum ada pengaruhnya
dalam dunia ini. Ibarat sebotol pewarna belum bisa mempengaruhi air kolam.
Namun yang membuat pikiran adalah suatu fenomena dimana anak seusia itu sudah
didoktrin dengan berbagai kepentingan petingginya. Sebuah contoh tatkala
tragedi Palestina, anak seusia itu sudah diajak ikut berdemo dengan menyerukan
kepentingan gurunya. Nah yang menjadi masalah juga, bagaimana besarnya nanti
kalau masih sekecil itu saja sudah disuapin hal semacam demikian. Dan mungkin
juga hal inilah yang menjadi bibit-bibit kaum pembangkang.”
Si Biru : “Sudah boy, bisa berbuat apa kita
dengan semua itu?”
Si Abu-abu : “Ah memang benar bro, kita tak bisa
merubah kenyataan yang sudah terlanjur terlukis di atas kanvas itu.”
Si Merah : “Ya saya sih cuma rindu akan
senyuman lugu mereka bung.”
Si Toga : “Semua ada waktunya bung. Kita
masih punya Tuhan di sana. Aku yakin dengan do’a yang kuat dari kaum kita, cepat
atau lambat makna yang sebenarnya dari perubahan itu akan dimengerti juga bung.
Dan aku juga yakin dengan bantuan Tuhan mereka semua akan segera siap
mengahadapi masa depan itu.”
Dan
secara kompak keempat pelaku diskusi itu mengucapakan kata Amin sebagai
sebuah harapan akan lebih cerahnya dunia
kaum mereka masing-masing. Berbarengan dengan itu
juga langit pun memunculkan kembali
kecerahannya. Diselaraskan pula dengan kicauan burng
yang mendamaikan pikiran.***