Lainnya

Translate

Jumat, 05 April 2013

CERPEN



KECELAKAAN DI SURGA ALMAMATER
Suatu ketika kawanan burung melukis langit dengan warna kegelapan. Senada dengan itu awan yang tadinya cerah berotasi seratus delapan puluh derajat menjadi kelabu.  Tatkala itu juga suara gemuruh pun bergema. Tak cukup sampai disitu, kilat dan petir pun tak mau kalah untuk memperlihatkan kebolehannya. Hingga diketahui kalau ternyata sedang terjadi diskusi di setengah surga sana. Dan pelaku dari diskusi itu ialah: Si Toga, Si Abu-abu, Si Biru, dan Si Merah.
Si Abu-abu      : “Gimana ini bro, di bawah sana keadanan semakin ruwet.”
Si Biru             : “Benar kamu, makin tambah pusing saja aku mikirnya.”
Si Merah          : “Lha memangnya ada apa kak? Kok kelihatannya pada sibuk berpikir semua.”
Si Toga            : “ Ah sekarang jaman sudah berubah bung. Tidak seperti dulu lagi. Mana ada  coba, seorang berpendidikan melakukan kegilaan semacam itu. Tak masuk di akal. Apa juga hubungannnya dengan berbagai materi yang telah dipelajari?”
Si Abu-abu      : “Benar kamu bro, jaman sudah berevolusi. Begitu pula dengan para penghuninya tak terkecuali. Selaras dengan itu pula pikirannya pun lambat laun mulai terjangkit virus evolusi”
Si Merah          : “Ah  bicara apa to kak? Jangan berbelit-belit kak!”
Si Biru             : “Kalian benar, perubahan itu sekarang semakin rajin mengetuk pikiran orang. Sampai kaum yang senasib dengan kita pun tak luput ia kunjungi.”
Si Abu-abu      : “Begini bro, yang aku takutkan bukanlah perubahannya, tapi pemaknaan dari kata perubahan itu sendiri. Setiap individu pasti punya pemaknaan sendiri-sendiri. Nah bisa jadi perbedaan pemaknaan itu yang kelak bisa menimbulkan suatu problema.”
Si Toga            : “Ah benar sekali, tak ada sidik jari yang sama disetiap telapak tangan. Dan apa yang Abu-abu takutkan, kini sudah mulai sering kita jumpai dimana-mana.”
Si Merah          : “Sering kita jumpai? Memangnya kejadian sepeti apa kak?”
Si Toga            : “ Ada sebuah berita bung. Suatu ketika, para sesepuh kaum pelajar yang katanya dibilang sebagai kaum berpendidikan, bermoral, dan beretika. Mereka malah menyukai dengan hal yang sangat bertolak belakang dengan label itu. Dunia sekolah yang seharusnya mereka jadikan sebagai dunia menguras ilmu, malah mereka gunakan untuk menguras keringat, menguras kantong, dan lebih parahnya lagi menguras pikiran orang lain.”
Si Abu-abu      : “Aku mengerti maksudmu Toga. Tapi mau dibilang apa, semua sudah terjadi. Dan seperti itulah kaumku. Mereka menguras keringat untuk tawuran. Menguras kantong untuk beberapa dilema yang sangat jauh hubungannya dengan ilmu pelajaran. Dan yang kamu maksud menguras pikiran orang lain itu semisal tragedi kecelakaan di surga bukan?”
Si Toga            : “Hahaaha, ya tau sendirilah kamu.”
Si Biru             : “ Oh itu, berarti tidak beda jauh dengan fenomena yang terlukis dari kaumku. Kanfas itu seolah seolah menggambarkan fakta saat ini. Dimana pemuda yang seharusnya disiapkan untuk menjadi penerus sesepuh bangsa, malah cara menyiapkannya tidak pada tempatnya.”
Si Toga            : “ Hah maksudmu gimana bung?”
Si Abu-abu      : “Iya maksudmu apa to bro?”
Si Biru             : “Gini lho, kaumku itu bisa dibilang disiapkan untuk menghadapi masa depan yang pasti akan datang nanti. Namun pada kenyataannya berbeda, mereka seolah terbebani dengan kata-kata itu semua. Mereka seolah menjadi bahan eksperimen tatkala baru saja menyandang gelar remaja dan masih dengan kelabilannya. Berbagai teori percobaan yang katanya untuk memajukan dunia pendidikan, diterapkan dengan kaumku sebagai bahan eksperimennya. Padahal konon katanya teori itu jiplakan dari negeri tetangga yang katanya juga telah gagal diterapkan di negeri itu.”
Si Toga            : “ Wah ngeri juga bung. Yah tapi semua terjadi pada kaum kalian kan?”
Si Biru             : “Eh siapa bilang? Kaum kamu juga tak luput dari problema itu Toga.”
Si Abu-abu      : “Ah jangan keenakan kamu Toga, coba kamu lihat kaummu. Kaum yang kata orang-orang adalah kaum cendekia, kaum sebagai tonggak peradaban. Akan tetapi…”
Si Toga            : “Akan tetapi apa? Bung, kaumku memang kaum cendekia. Coba kau lihat siapa yang berhasil membuat revolusi dunia politik kita. Dan semua revolusi yang sekarang dinikmati bangsa kita itu gak bakalan terjadi kalau bukan kaumku, kaum Toga sebagai aktor peradaban bung.”
Si Abu-abu      : “Ah kamu tidak melihat ke tanah bro, terlena akan kebebasan ekspresi ala kaum Toga. Dan parahnya lagi kebebasan ekspresi itu yang menutupi akan kodrat semestinya. Menurutku kaum Toga itu masih belum lepas dari kwajiban utama untuk menimba ilmu. Akan tetapi pada kenyataannya, bebas berekspresi itu diartikan dalam makna yang berbeda. Jadi tidak heran kalau pengangguran bergelar semakin menjamur di bangsa ini. Kaum Toga terlalu sibuk dengan urusan mengutarakan pikiran, dan tidak jarang cara dalam mengutarakannya itu yang salah secara ekspresi. Dengan dalih membantu mengutarakan keluhan masyarakat, mereka dengan seenaknya berorasi pada instansi tertentu. Dan yang lebih tidak disukai lagi, apabila ekspresi itu berujung anarki.”
Si Toga            : “Ah tapi semua itu hanya argument kamu. Toh kaum ku tetap santai dalam menjalaninya. Mereka seolah tak terbebani dengan semua itu. Mereka tetap santai dengan tenggelamnya mereka dalam kebebasan itu.”
Si Abu-abu      : “Nah dengan tenggelamnya mereka itu yang menjadi pikiran bagi orang bro.”
Si Toga            : “Oke harus ku akui kamu benar bung. Dan jujur saja aku mulai takut akan kebebasan itu bung.”
Si Biru             : “Kalian semua benar, memang kenyataan seperti ini lah yang harus diterima. Eh ngomong-ngoman Si Merah kelihatannya lagi galau tuh.”
Si Abu-abu      : “Hei kamu kenapa merah, adakah yang mau dibagi?”
Si Merah          : “Oh gini kak, mendengar cerita dari kakak-kakak tadi. Saya jadi ikut kepikiran dengan kaumku juga kak.”
Si Toga            : “Lha emang kenapa? Bukan kah kaum mu masih baik-baik saja. Masih selalu bisa tertawa dengan keluguannya walau sesungguhnya beban pendidikan sudah mulai ada bung.”
Si Merah          : “Nah itu dia yang sebenarnya mau saya omongin kak. Ya memang kalau sebatas dipandang kaum ku itu belum ada pengaruhnya dalam dunia ini. Ibarat sebotol pewarna belum bisa mempengaruhi air kolam. Namun yang membuat pikiran adalah suatu fenomena dimana anak seusia itu sudah didoktrin dengan berbagai kepentingan petingginya. Sebuah contoh tatkala tragedi Palestina, anak seusia itu sudah diajak ikut berdemo dengan menyerukan kepentingan gurunya. Nah yang menjadi masalah juga, bagaimana besarnya nanti kalau masih sekecil itu saja sudah disuapin hal semacam demikian. Dan mungkin juga hal inilah yang menjadi bibit-bibit kaum pembangkang.”
Si Biru             : “Sudah boy, bisa berbuat apa kita dengan semua itu?”
Si Abu-abu      : “Ah memang benar bro, kita tak bisa merubah kenyataan yang sudah terlanjur terlukis di atas kanvas itu.”
Si Merah          : “Ya saya sih cuma rindu akan senyuman lugu mereka bung.”
Si Toga            : “Semua ada waktunya bung. Kita masih punya Tuhan di sana. Aku yakin dengan do’a yang kuat dari kaum kita, cepat atau lambat makna yang sebenarnya dari perubahan itu akan dimengerti juga bung. Dan aku juga yakin dengan bantuan Tuhan mereka semua akan segera siap mengahadapi masa depan itu.”

            Dan secara kompak keempat pelaku diskusi itu mengucapakan kata Amin sebagai
sebuah harapan akan lebih cerahnya dunia kaum mereka masing-masing. Berbarengan dengan itu
juga langit pun memunculkan kembali kecerahannya. Diselaraskan pula dengan kicauan burng
yang mendamaikan pikiran.*** 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar