Manusia
sebagai Pelaku Kebudayaan
Berbicara
tentang kebudayaan pasti tak akan lepas dari kata manusia. Entah apa yang
menjadi sebab apabila berbicara mengenai kebudayaan pasti juga berbicara tentang
manusia. Begitu juga sebaliknya, apabila membicarakan manusia pasti tak akan
jauh kaitannya dengan kebudayaan. Apa keduanya saling berkaitan? Apa keduanya
mempunyai hubungan? Hubungan yang seperti apa? Dan apakah manusia dengan
kebudayaan itu tidak bisa terpisahkan?
Manusia
bisa diartikan sebagai makhluk yang paling sempurna menurut berbagai sumber. Bisa
jadi dikatakan emikian karena memang manusia itu memiliki segalanya. Jauh berbeda
dengan makhluk lainnya semisal hewan, tumbuhan,dll. Manusia adalah makhluk sosial,
makhluk yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat hidup seorang diri tanpa
bantuan darimana pun. Bisa juga dikatakan makhluk dengan sejuta kemampuan
bersosialisasi. Mereka saling berkomunikasi hingga membentuk interaksi.
Menyusun serangkaian sosialita kehidupan hingga semua itu memunculkan kata yang
bernama kebudayaan.
Kebudayaan
merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris,
kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah
atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia. Kata
budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi
atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari
kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri
diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia,
sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok
manusia. Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana
dikutip Budiono K, menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan adalah
seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”.
Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses
pendidikan.
Dalam
kehidupan sehari-hari budaya atau kebudayaan sendiri dapat dikatkan sebagai
perilaku yang sepontan muncul tanpa ada aturan yang tertulis dalam buku atau
bahkan undang-undang. Jadi kebudayaan itu secara langsung pasti dimunculkan
oleh masyarakat dalam berbagai situasi dan kondisi. Kemunculan budaya ini bisa
jadi pada saat kondisi baik, namun tidak menutup kemungkinan tatkala kondisi
buruk pun pasti ada kebudayaan yang terjadi. Dan semua itu yang menjadi
pelakunya tidak lain adalah makhluk bernama manusia. Karena memang kebudayaan
itu ada jika pada kondisi tersebut terdapat manusia. Dan inilah jawaban mengapa
jika terdapat kebudayaan pasti terdapat manusia dan begitu juga sebaliknya.
Dewasa
ini tidak sulit untuk menemukan atau mencari yang namanya kebudayaan. Kebudayaan
dapat kita jumpai dimana saja dan dalam bentuk apa saja. Dalam bentuk budaya
yang baik terdapat budaya gotong royong atau kerja bakti. Entah kapan munculnya
budaya gotong royong tersebut. Yang pasti budaya tersebut memberi sejuta
manfaat bagi manusia sebagi pelaku utamanya. Dalam budaya gotong royong manusia
diajarkan arti sama rata sama rasa. Pada kondisi tersebut manusia berbaur sama
lain tanpa membedakan usia dan gender. Mereka semua membangun interaksi sesama
masyarakat sebagai nama lain dari sekelompok manusia. Tidak ada yang namanya
gotong royong hanya dilakukan oleh masyarakat miskin saja atau kaya saja. Dan inilah
yang disebut gotong royong mengajarkan sama rata sama rasa.
Dalam
kondisi yang berbeda atau dalam kondisi yang tidak baikpun juga menculkan
kebudayaan. Sebut saja dalam kondisi globalisasi yang memunculkan budaya hedonisme
yang memunculkan perilaku konsumtif. Budaya yang saat ini menjadi wajah dari
Negara Republik Indonesia tercinta. Budaya yang memaksa manusia saling bersaing
satu sama lain. Sangat jauh berbeda dengan budaya gotong royong tadi. Budaya tersebut
muncul lantaran era globalisasi yang bisa jadi disalah artikan oleh manusia
sebagi pelaku kebudayaan. Dalam kajian lain budaya seperti ini juga tidak
pernah diajarkan oleh nenek moyang atau leluhur jaman dahulu. Namun inilah
budaya yang sedang menjadi tren sebagian bangsa Indonesia. Entah kapan akan
berkahirnya kebudayaan semacam ini. Yang pasti sebagai manusia yang baik pasti
tidak akan setuju dengan budya seperti ini. Semoga saja para pelaku budaya hedonisme
segera terbangun dari tidur panjangnya.
Tidak
dapat disangkal kebudayaan dan manusia memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena
jika dikaji memang benar adanya jika pelaku kebudayaan adalah manuisa itu
sendiri. Yang diharapkan saat ini hanyalah budaya yang kelak dimunculkan itu
merupakan budya yang baik. Dan sebagi penutup, yang harus diingat adalah jika
manuisa masih ada di muka bumi maka kebudayaan akan terus ada.
Roghib
Masyhun Ridho
12201241076
PBSI M
FBS-UNY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar