Lainnya

Translate

Kamis, 04 April 2013

Manusia Sebagi Pelaku Kebudayaan



Manusia sebagai Pelaku Kebudayaan

Berbicara tentang kebudayaan pasti tak akan lepas dari kata manusia. Entah apa yang menjadi sebab apabila berbicara mengenai kebudayaan pasti juga berbicara tentang manusia. Begitu juga sebaliknya, apabila membicarakan manusia pasti tak akan jauh kaitannya dengan kebudayaan. Apa keduanya saling berkaitan? Apa keduanya mempunyai hubungan? Hubungan yang seperti apa? Dan apakah manusia dengan kebudayaan itu tidak bisa terpisahkan?
Manusia bisa diartikan sebagai makhluk yang paling sempurna menurut berbagai sumber. Bisa jadi dikatakan emikian karena memang manusia itu memiliki segalanya. Jauh berbeda dengan makhluk lainnya semisal hewan, tumbuhan,dll. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang sangat kecil kemungkinannya untuk dapat hidup seorang diri tanpa bantuan darimana pun. Bisa juga dikatakan makhluk dengan sejuta kemampuan bersosialisasi. Mereka saling berkomunikasi hingga membentuk interaksi. Menyusun serangkaian sosialita kehidupan hingga semua itu memunculkan kata yang bernama kebudayaan.
Kebudayaan merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia. Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Budiono K, menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan.
Dalam kehidupan sehari-hari budaya atau kebudayaan sendiri dapat dikatkan sebagai perilaku yang sepontan muncul tanpa ada aturan yang tertulis dalam buku atau bahkan undang-undang. Jadi kebudayaan itu secara langsung pasti dimunculkan oleh masyarakat dalam berbagai situasi dan kondisi. Kemunculan budaya ini bisa jadi pada saat kondisi baik, namun tidak menutup kemungkinan tatkala kondisi buruk pun pasti ada kebudayaan yang terjadi. Dan semua itu yang menjadi pelakunya tidak lain adalah makhluk bernama manusia. Karena memang kebudayaan itu ada jika pada kondisi tersebut terdapat manusia. Dan inilah jawaban mengapa jika terdapat kebudayaan pasti terdapat manusia dan begitu juga sebaliknya.
Dewasa ini tidak sulit untuk menemukan atau mencari yang namanya kebudayaan. Kebudayaan dapat kita jumpai dimana saja dan dalam bentuk apa saja. Dalam bentuk budaya yang baik terdapat budaya gotong royong atau kerja bakti. Entah kapan munculnya budaya gotong royong tersebut. Yang pasti budaya tersebut memberi sejuta manfaat bagi manusia sebagi pelaku utamanya. Dalam budaya gotong royong manusia diajarkan arti sama rata sama rasa. Pada kondisi tersebut manusia berbaur sama lain tanpa membedakan usia dan gender. Mereka semua membangun interaksi sesama masyarakat sebagai nama lain dari sekelompok manusia. Tidak ada yang namanya gotong royong hanya dilakukan oleh masyarakat miskin saja atau kaya saja. Dan inilah yang disebut gotong royong mengajarkan sama rata sama rasa.
Dalam kondisi yang berbeda atau dalam kondisi yang tidak baikpun juga menculkan kebudayaan. Sebut saja dalam kondisi globalisasi yang memunculkan budaya hedonisme yang memunculkan perilaku konsumtif. Budaya yang saat ini menjadi wajah dari Negara Republik Indonesia tercinta. Budaya yang memaksa manusia saling bersaing satu sama lain. Sangat jauh berbeda dengan budaya gotong royong tadi. Budaya tersebut muncul lantaran era globalisasi yang bisa jadi disalah artikan oleh manusia sebagi pelaku kebudayaan. Dalam kajian lain budaya seperti ini juga tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang atau leluhur jaman dahulu. Namun inilah budaya yang sedang menjadi tren sebagian bangsa Indonesia. Entah kapan akan berkahirnya kebudayaan semacam ini. Yang pasti sebagai manusia yang baik pasti tidak akan setuju dengan budya seperti ini. Semoga saja para pelaku budaya hedonisme segera terbangun dari tidur panjangnya.
Tidak dapat disangkal kebudayaan dan manusia memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena jika dikaji memang benar adanya jika pelaku kebudayaan adalah manuisa itu sendiri. Yang diharapkan saat ini hanyalah budaya yang kelak dimunculkan itu merupakan budya yang baik. Dan sebagi penutup, yang harus diingat adalah jika manuisa masih ada di muka bumi maka kebudayaan akan terus ada.
      


                                                                                                   Roghib Masyhun Ridho
                                                                                                            12201241076
                                                                                                                  PBSI M
                                                                                                                FBS-UNY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar